NyonkWae sehat !

Selasa, 08 Maret 2011

Pengobatan Tradisional OlahRaga SepakBola

Cedera OlahRaga tidak akan pernah terlepas dari pemain sepak bola, mengingat permainan ini menggunakan banyak kerja otot tubuh dan kemungkinan benturan tubuh antar pemain sangat tinggi. Cedera olahraga ini bisaberdampak langsung terhadap masa depan karir dan ekonomi keluarganya.
Cedera yang dialami pemain sepak bola biasa terjadi saat latihan dan pertandingan secara sengaja atau tidak sengaja karena faktor lapangan, gerakan tubuh yang salah, berbenturan dengan pemain lain dan sebagainya.
Bagian tubuh seperti kepala hingga ujung kaki berpotensi mengalami cedera ringan dan serius. Seperti halnya menangani cedera olahraga lainnya, sebenarnya cedera yang menimpa pemain sepak bola seharusnya juga mendapatkan perawatan dan pengobatan medis.
Namun realitas unik terjadi di beberapa kalangan pemain sepak bola diIndonesia, lebih memilih menjalani pengobatan alternatif atau biasa disebut pengobatan tradisional karena terbukti memberikan hasil memuaskan.
Pertimbangan memanfaatkan jasa pengobatan tradisional dalam mengobati cedera olahraga sepakbola daripada praktek kedokteran dipengaruhi oleh faktor biaya operasi yang mahal dan waktu pemulihan lama.
Dapat disimpulkan bahwa pemain sepak bola menginginkan cedera tersebut dapat disembuhkan secara instan agar kembali pada kondisi semula.
Tata cara pengobatan tradisional pada dasarnya mengacu kepada mengembalikan fungsi otot kembali normal melalui teknik pijatan ditunjang ramuan tradisional.
Tahap awal penyembuhan cedera olahraga dimulai dengan melakukan pijatan di telapak kaki sebagai titik pusat peredaran darah, bukan pada bagian yang menderita cedera. Peranan ramuan tradisional sama sekali tidak mengandung muatan mistis didalamnya melainkan memberikan pengaruh panas ke otot sehingga memperlancar peredaran darah.
Penanganan Cedera Secara Tradisional
Berdasarkan pengalaman salah seorang pemain tim nasional Indonesia asal klub Persipura Jayapura, Ricardo Salampessy, saat mengalami cedera lutut parah dapat disembuhkan dengan metode pijatan dan ramuan tradisional asal Papua.
Selama cedera, Ricardo Salampessy secara rutin memijitkan lututnya kepada ahli terapis tradisional dan dioleskan pula ramuan terbuat dari jahe merah asal Papua.
Proses penyembuhan cederanya berlangsung selama 3 bulan sehingga lebih cepat daripada penanganan operasi yang memakan waktu selama 6 bulan seperti yang disarankan.
Metode penyembuhan yang dilakukan ahli terapis tradisional untuk setiap jenis cedera olahraga bervariasi. Sebagai acuan titik pemijatan terletak pada telapak kaki kemudian bergerak ke bagian lain tubuh yang berhubungan dengan cedera.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai cara penanganan cedera lutut, engkel dan memar.
  • Cedera lutut
    Jika terjadi dislokasi lutut maka langkah awalnya adalah mengembalikan posisi ujung lutut kepada posisi semula. Cedera olahraga dibagian lutut, dimulai dengan tahap pemijatan telapak kaki agar peredaran darah mengalir lancar ke jantung. Dilanjutkan dengan memijat daerah sekitar lutut mengarah ke jantung.
  • Cedera engkel
    Cedera engkel ditangani melalui pemijatan telapak kaki, kemudian diurut di bagian engkel secara perlahan sambil diberikan tekanan yang mengarah ke atas. Untuk mengembalikan fungsi kerja otot, persendian digerakkan kearah berbeda.
  • Cedera memar
    Pemijatan berawal dari ujung kaki menuju otot bagian tubuh lain yang masih berhubungan dengan lokasi cedera. Cedera memar tidak boleh dipijat pada bagian yang cedera.
Cara pengobatan tradisional untuk mengobati cedera olahraga sepak bola maupunpenyakit umumnya memang dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat di Indonesia. Keyakinan kuat manfaat pengobatan tradisional sudah dikenal secara turun temurun sebagai bagian dari budaya masyarakat lokal.
Menurut dr. Jhon Kambu seorang dokter tim sepakbola asal papua menyatakan bahwa beberapa pengobatan tradisional menggunakan metode pijatan dan ramuan tradisional tidak bertentangan dengan ilmu kedokteran. (Tabloid Soccer edisi17/XI, 23 Oktober 2010).
Namun harus diingat bahwa memilih ahli terapis tradisional harus selektif dan berhati-hati karena apabila terjadi kesalahan maka akibatnya menjadi fatal yaitu tidak dapat kembali bermain sepak bola atau pensiun.

Senin, 17 Januari 2011

Temukan Sumber Percaya Diri

Menurut banyak penelitian, rasa percaya diri sangat berpengaruh terhadap penampilan seorang atlet di lapangan. Keunggulan teknik, fisik jadi sia-sia ketika percaya diri tiba-tiba menguap. Berbagai macam sebab dianggap sebagai biang keladi hilangnya kepercayaan diri. Bisa jadi karena menganggap lawan yang lebih hebat, menganggap pertandingan yang terlalu besar, beban yang dipikul terlalu berat dan sebagainya.
Namun, ada satu hal yang penting untuk tetap ditekankan kepada para atlet maupun para pelatih, bahwa kepercayaan diri menjadi wilayah persepsi yang bersifat sangat personal. Artinya, beban pertandingan, kualitas lawan, kesiapan fisik, maupun teknik merupakan bagian dari kemampuan seorang individu untuk berdamai dengannya. Bagi atlet A barangkali situasi yang sama persis tidak berarti apa-apa, tapi beda dengan atlet B. Atlet B bisa sangat frustasi dengan situasi pertandingan yang sama. Itulah mengapa Self Confidence merupakan wilayah pribadi yang harus ditangani oleh individu sendiri, tentu saja, dengan bantuan lingkungan sekitarnya.
Hal lain yang penting adalah, rasa percaya diri bukan merupakan bawaan lahir. Ada pelatih yang menganggap bahwa ada satu pemain yang terlahir dengan rasa percaya diri tinggi, sedang pemain lain tidak memilikinya. Mungkin benar bahwa ada anak yang lebih percaya diri dibandingkan yang lain, tapi itu semua merupakan hasil dari pendidikan dan lingkungan sejak kecil. Gampangnya, jika dari kecil seorang anak di ajak untuk percaya diri, maka dia akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang besar. Demikian juga dengan proses mencipta atlet dengan rasa percaya diri tinggi. Sekali lagi, itu bukan bawaan lahir, tapi merupakan hasil latihan..
Sembilan Sumber
Menurut Weinberg dan Gould yang dikutip oleh Zauderer dalam PezCyclingNews.com ( Mei 2008 ) ada 9 sumber percaya diri dalam situasi spesifik olahraga. Sumber-sumber tersebut adalah:
1. Mastery: Developing and improving skills in training and competition.
Penguasaan kemampuan teknik dan fisik merupakan salah satu bentuk sumber rasa percaya diri yang dominan. Atlet seringkali kehilangan rasa percaya diri karena merasa tidak cukup mampu untuk memenangkan pertandingan lantaran merasa tidak punya cukup teknik untuk mengalahkan lawan. Untuk itulah, para pelatih harus memperhatikan hal ini dengan baik. Keterampilan dan skill hanya bisa ditingkatkan melalui proses latihan dan kompetisi yang sehat.

2. Demonstrating ability: Having success in competition.Yang kedua adalah menunjukkan kemampuan dalam rangka memenangkan sesuatu di dalam kompetisi. Adalah sesuatu yang instingtif ketika seorang manusia mempunyai keinginan untuk “pamer”. Dalam konteks percaya diri, pamer ini bisa menjadi sumber rasa percaya diri yang baik untuk para atlet. Ketika pamer dan mendapat apresiasi dari orang lain, maka kemungkinan besar dia akan mendapatkan rasa yakin terhadap apa yang dia lakukan. Hal ini membawa konsekuensi bahwa seorang pelatih tidak bisa selalu menyalahkan dan memarahi atletnya, karena itu akan menjungkalkan rasa percaya dirinya. Hati-hatilah memilih ucapan. Memang tidak harus selalu dipuji, tapi sampaikan kritikan dengan cara yang sesuai.
3. Getting the breaks: Seeing things going your way.Keberhasilan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya rasa percaya diri seorang atlet. Orang tentu senang menyaksikan dirinya mendapatkan sesuatu dan melihat banyak hal berjalan sesuai dengan keinginan. Itulah yang mendasari munculnya Confidence. Keberhasilan tentu saja tidak hanya saat sedang berkompetisi, pelatih bisa menciptakan situasi tantangan yang harus dipecahkan oleh para pemainnya saat latihan. Semakin sering seorang atlet mendapat keberhasilan, maka rasa percaya dirinya akan meningkat. Tapi tentu saja harus dalam kontrol untuk menghindari over confidence.
4. Seeing others perform successfully.Menyaksikan orang lain mendapat keberhasilan seringkali memacu motivasi seseorang untuk melakukan hal yang sama. Ketika seorang atlet merasa termotivasi, maka bisa dikatakan bahwa sebenarnya dia sedang dalam rasa percaya diri yang tinggi. Contoh kasus adalah bersinarnya David Beckham di AC Milan. Tiba-tiba para pemain lain merasa sangat bersemangat untuk mencapai scudetto. Ucapan-ucapan yang sangat percaya diri muncul dari para pemain lain.
5. Physical and mental preparation. Persiapan fisik dan mental adalah syarat mutlak bagi seorang atlet disamping persiapan teknik. Persiapan fisik meliputi kesehatan, ketangguhan, kecepatan, poser dan sebagainya. Jika seorang atlet berada dalam kondisi fisik prima, maka dia akan merasa mampu menjalani pertandingan se ketat apapun. Sedangkan persiapan mental diantaranya meliputi motivasi, menghilangkan rasa takut atau kuatir, berpikir positif, dan konsentrasi. JIka persiapan mental dan fisik dijalani dengan benar, tidak mustahil si atlet akan menjadi orang yang sangat percaya diri mengandaskan lawan di lapangan.
6. Social support: Encouragement from family and friends.Jangan lupakan dukungan sosial untuk mendapatkan rasa percaya diri. Orang tua, keluarga, suami atau istri juga teman-teman memberi arti khusus bagi seseorang. Jika semua itu mendukung dengan jujur, maka tidak mustahil dia akan tampil kesetanan.
7. Belief/trust in your coach(es).Yakinlah pada pelatihmu! pelatih adalah orang yang paling tahu kondisi si atlet. Pelatihlah yang bertanggung jawab terhadap segala kondisi yang menyangkut atlet dalam rangka memenangkan sesuatu. Konsekuensi untuk para pelatih adalah mereka harus memberikan sesuatu yang sistematis dan memang benar-benar logis untuk mencapai sebuah tujuan yang diinginkan bersama.
8. Body image: Feelings about body, strength, appearance, weight.
Persepsi akan diri sendiri lah yang menyebabkan rasa percaya diri itu muncul atau bahkan hilang. Jika seorang atlet terlanjut mempunyai persepsi yang tidak baik terhadap dirinya, maka rasa percaya diri juga akan berangsur-angsur menghilang. Oleh karena itu, penting bagi seorang atlet untuk mempunyai persepsi yang positif terhadap dirinya.

9. Environmental comfort: Feeling comfortable where you’re performing.
Situasi dan lingkungan pertandingan yang nyaman juga menjadi sumber rasa percaya diri yang cukup dominan. Bayangkan ketika seorang pemain bulu tangkis harus bermain dalam suhu ruang yang panas atau ruangan yang berangin, apalagi jika melawan pemain tuan rumah yang dianggap sudah mengetahui situasi itu dengan baik. Lingkungan lain yang seringkali berpengaruh adalah kondisi suporter. Jika bermain dalam tekanan suporter yang tak terkendali, maka siapapun akan gentar, karena bukan lagi kualitas teknik yang dipertaruhkan. Oleh karena itu, tidak sembarang kompetisi bisa diikuti. Para pemain sepakbola Indonesia sering bermain dalam pertandingan tarkam yang kondisi lapangan, penonton dan segala perangkat pertandingannya tidak memadai. Bukan tidak mungkin, inilah yang menyebabkan para pemain itu gentar ketika bertemu dengan lawan dari luar negeri.

Sinergi Psikologi Olahraga dalam Program Latihan





Psikologi olahraga merupakan salah satu instrumen dalam sebuah proses latihan untuk meningkatkan performa atlet. Bersama dengan biomekanik, nutrisi serta kedokteran, psikologi memberi asupan agar program penciptaan atlet berprestasi menjadi lebih terarah dan efektif. Kenyataannya, belum banyak pelatih yang menyadari peran, fungsi dan bentuk yang bisa diberikan oleh psikologi olahraga dalam melatih para atletnya. Ada dua aliran psikologi olahraga yang bisa diterapkan dalam konteks hubungan dengan para atlet. Yang pertama adalah psikologi klinis. Aliran ini merupakan salah satu cabang psikologi yang secara spesifik berkaitan dengan gangguan-gangguan emosional atau kepribadian yang dialami oleh manusia. Penerapan dalam konteks olahraga, psikolog klinis menjadi partner bagi manajemen dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kejiwaan yang dialami baik oleh atlet, pelatih maupun pengurus cabang olahraga tersebut. Persoalan-persoalan kejiwaan yang umum dialami oleh para atlet antara lain gangguan makan (eating disorders), jenisnya adalah Bulimia atau Anorexia, gangguan tidur, gangguan kecemasan akut, gangguan kepribadian dan sebagainya. Psikolog klinis dalam olahraga harus mampu menjadi konselor atau terapis bagi atlet-atlet yang mengalami gangguan-gangguan tersebut. Perannya tidak berkaitan secara langsung dengan proses latihan dan secara otomatis tidak berkaitan dengan para pelatih dalam lapangan.
Aliran yang kedua, dan menjadi salah satu elemen vital dalam proses latihan adalah psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan merupakan salah satu cabang psikologi yang memberikan metode dan dasar bagi sebuah proses pendidikan dalam arti yang luas. Proses latihan menjadi salah satu bentuk pendidikan dalam situasi olahraga. Psikolog pendidikan memegang peranan yang cukup vital dalam pembentukan mental para atlet agar mencapai prestasi yang maksimal. Secara umum, peran psikolog pendidikan dalam olahraga adalah menjadi asisten pelatih (bersama pelatih fisik, ahli nutrisi, dan dokter) untuk memberi masukan pelatih dalam menyusun program latihannya. Psikologi aliran ini yang kemudian akan kita sebut dengan psikolog olahraga.
Perhatikan Program Latihan
Dalam menjalankan perannya, psikolog olahraga mendasarkan programnya pada program yang dibuat oleh pelatih. Secara umum, pelatih akan membagi program latihannya menjadi dua periodisasi yakni, microcycle dan macrocycle. Microcycle adalah program yang dibuat dalam logika waktu yang lebih pendek, misalnya harian dan mingguan. Sedangkan macrocycle adalah kumpulan dari beberapa microcycle dan merupakan sasaran akhir tahun dari seorang atlet. Secara sederhana, microcycle mempunyai sasaran-sasaran jangka pendek, sedangkan macrocycle adalah sasaran puncaknya.
Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah kalender kompetisi. Sebagai bahan evaluasi latihan, seorang atlet memerlukan kompetisi yang rutin dan bersifat meningkat. Kompetisi yang rutin dan kompetitif akan memberikan kesempatan baik bagi para atlet maupun pelatih untuk melihat perkembangan dan mengevaluasi kekuarangan-kekurangan yang mungkin masih ditemui. Kompetisi sendiri biasanya dibedakan menjadi dua jenis, yang pertama adalah Kompetisi Antara dan yang kedua adalah kompetisi utama. Untuk beberapa cabang olahraga, kompetisi utama diadakan dalam bentuk seri yang dilangsungkan selama satu tahun.
Dengan mengantongi program latihan dari pelatih, para psikolog olahraga baru bisa membuat program dengan sasaran peningkatan kualitas mental bertanding dari para atlet. Program-program psikolog olahraga tidak hanya berupa pendampingan bagi para atlet, tapi berbentuk program latihan yang membekali keterampilan psikologis kepada para atlet. Keterampilan-keterampilan mental tersebut akan sangat berguna untuk pemain agar mereka mampu menangani masalah-masalah psikologis yang sering mengganggu penampilan, seperti kecemasan, motivasi, percaya diri, daya juang dan sebagainya.Tidak hanya dalam pertandingan, keterampilan ini juga akan menciptakan mental yang kuat saat menjalani latihan. Keterampilan-keterampilan mental tersebut tersebut antara lain: Self talk, imagery training, relaksasi dan sebagainya. 
Sebagai kesimpulan, program yang dibuat oleh psikolog olahraga harus selalu menunjang program yang dibuat oleh para pelatih kepala. Tujuannya adalah satu, membentuk atlet yang mempunyai mental yang tangguh, motivasi prima serta konsentrasi yang mendukung mereka untuk mendapatkan gelar juara. Para pelatih atau pembina cabang olahraga yang serius ingin menciptakan atlet-atlet yang berkualitas hendaknya mulai memikirkan untuk menggandeng unsur ilmu pengetahuan yang lain. Karena olahraga modern sekarang ini tidak cukup mengandalkan bakat, tapi proses pembinaan dan latihan menjadi elemen vital dalam mencetak para calon juara. Negara-negara dengan tradisi prestasi olahraga yang tinggi telah menerapkan ini dengan baik, mengapa Indonesia tidak memulainya dari sekarang?